Gaza - Berlalunya tahun 2013, rakyat Palestina meninggalkan tahun yang berat secara ekonomi, baik di Gaza maupun Tepi Barat. Pusat Informasi Palestina menampilkan pendapat sejumlah pengamat ekonomi, mengenai fenomena penderitaan ekonomi dan tantangannya di masa depan.
Hutang Otoritas 3 Milyar
Pengamat ekonomi Maher Thiba menegaskan, krisis ekonomi sangat mencekik, terutama di Gaza. Sementara otoritas Palestina juga tidak mendapat bantuan luar, yang seharusnya mencapai 1,6 milyar USD pada tahun 2013 dan tambahan 500 juta USD seperti yang diprediksi sebelumnya, hal ini disebabkan inkonsistensi sejumlah negara donor yang menangguhkan bantuan keuangan, yang memicu krisis keuangan besar.
Thiba menyebutkan, kekurangan anggaran Otoritas pada akhir 2013 mencapat sekitar 550 juta USD. Di samping hutang Otoritas baik kepada bank lokal maupun hutang luar negeri dari 2,3 milyar USD pada akhir 2010 bertambah menjadi 4,3 milyar USD pada akhir 2013, atau sekitar 38 % dari PDB.
Sebagai kelanjutan krisis keuangan, kementerian keuangan meminjam 70 juta USD dari bank Arab, untuk meringankan komitmen sector khusus yang lambat.
Kekhawatiran Chaos
Dr. Muhammad Miqdad, dosen ekonomi di Universitas Islam di Gaza mengkhawatirkan meletusnya kondisi Palestina disebabkan krisis ekonomi, menurutnya ekonomi saat ini masih tergantung pada dukungan luar.
Sejumlah factor yang menyebabkan krisis ekonomi adalah ketatnya blockade, penutupan terowongan di Gaza, dan dampak perpecahan ekonomi serta pembagian Tepi Barat yang dilakukan penjajah zionis. Solusi dari semua ini tergantung kepada persatuan Palestina dan mengakhiri perpecahan.
Sementara itu Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas menyatakan tidak akan berpangku tangan jika blockade terus berlanjut, dan penderitaan warga makin meningkat akibat krisis listrik dan bahan bakar.
Awalnya Mudah, Akhirnya Sulit
Sementara itu menurut pengamat ekonomi Muin Rajab, tahun 2013 otoritas Palestina mengalami degradasi ekonomi, dan meningkatnya kemiskinan sangat tinggi, di tengah bergantungnya pada dukungan luar negeri, hal ini menambah hutang dan bunga yang makin melilit.
Sementara pada fase kedua tahun 2013, kondisi regional dunia Arab berdampak negative bagi Gaza pada Juli 2013, terutama setelah penghancuran terowongan menuju Gaza, yang memicu kelangkaan bahan bakar, bahan bangunan dan meningkatnya harga di pasar.
Kudeta Di Mesir
Pasukan militer Mesir menghancurkan sejumlah terowongan yang menjadi nadi ekonomi Gaza, setelah kudeta militer terhadap Presiden Muhamamd Mursi pada 3 Juli 2013.
Menurut pengamat ekonomi Umar Sya’ban, tahun 2013 merupakan yang terburuk sejak 10 tahun terakhir, terutama disebabkan blockade ketat Gaza dan penggusuran terowongannya, serta jatuhnya rezim Mesir.
Sya’ban menyatakan, Gaza sejak 6 bulan lalu mengalami kondisi sulit di beragam sektornya, dan di awal tahun baru ini kondisi masih memprihatinkan.
Sebagian orang berpendapat, krisis ekonomi hanya terbatas di Gaza, namun menurut pengamat ekonomi Nafiz Abu Bakar, krisis ekonomi juga memperbesar hutang otoritas yang mencapai lebih dari 4 milyar USD, dan menambah lemahnya anggaran Palestina.
Abu Bakar berpendapat, kondisi ekonomi sangat terkait erat dengan kondisi politik, semua saling berkaitan, hal ini juga menjelaskan gambaran 2014 yang terkait dengan kondisi politik. Ameria berupaya mendikte para pengambil kebijakan Palestina dengan imbalan dukungan ekonomi, sehingga tahun mendatang penuh dengan masalah ekonomi yang sulit. (qm) (infopalestina.com)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !