Islam memang akan terus diguncang. Siang dan malam para musuh memikirkan
bagaimana agar nilai-nilai Islam tak mengalir dalam urat nadi umatnya
"SAYA mendesak orang-orang yang
turun ke jalanan hari "
Jumat nanti untuk membuktikan tekad mereka dan
memberi saya, tentara, dan polisi sebuah mandat guna menghadapi
kemungkinan kekerasan dan terorisme.
DEMIKIAN petikan pidato Jenderal Abdul
Fattahal-Sissi, jenderal yang memimpin kudeta Mohammad Mursy saat
berpidato di acara wisuda kadet militer Mesir, mendesak masyarakat Mesir
untuk turun ke jalan pada hari Jumat, sambil mengatakan bahwa massa
yang besar akan memberinya “mandat” dan sebuah “perintah” untuk
melakukan hal “penting” memerangi pertumpahan darah yang telah membunuh
puluhan orang sejak militer menggulingkan Presiden Mohamad Mursy Rabu
(24/07/2013) lalu.
Entah karena panic atau frustasi, Sisi yang seharusnya berposisi
menjadim rakyat Mesir dalam aman dan jauh dari konflik justru mengajak
rakyat dengan cara memprovokasi untuk turun ke jalan “melawan” Al Ikhwan al Muslimun (Ikhwan).
“Pada hari Jumat, semua orang Mesir yang jujur dan terhormat harus
keluar. Keluar dan mengingatkan seluruh dunia bahwa kalian mempunyai
sebuah keinginan memecahkan masalah kalian sendiri,“ kata al-Sissi.
“Tolong, pikul tanggung jawab bersama-sama saya, tentara anda dan polisi
serta tunjukkan besarnya ketabahan Anda dalam menghadapi apa yang
terjadi,“ ujarnya.
Ia bahkan sudah mulai terang-terangan memberi stigma kelompok Islam dengan istilah “terorisme”. [baca: Frustasi, Militer Mesir Minta Dukungan Demo lebih Besar]
"Saya mendesak orang-orang yang turun ke jalanan hari Jumat nanti
untuk membuktikan tekad mereka dan memberi saya, tentara, dan polisi
sebuah mandat guna menghadapi kemungkinan kekerasan dan terorisme."
"Dengan demikian dalam hal itu harus ada penghentiaan kekerasan serta
terorisme dan tentara akan mendapat mandat untuk menghadapinya,"
ujarnya dikutip BBC.
Islamophobia kaum Sekuler
Kudeta militer di Mesir yang menggulingkan presiden sah dan
demokratis, Mohammad Mursy menyisakan catatan penting. Satu di antaranya
adalah masalah islamophobia. Mengenai ini seorang pun tidak
akan ada yang menolak bahwa yang sebenarnya terjadi di Mesir adalah
gerakan mengekang dan menjegal langkah islamisasi pemerintahan. Karena
selama 30 tahun lebih rezim Husni Mubarak yang tampil ke permukaan
adalah konsep negara sekular.
Tidak ada yang menyangkal bahwa proses demokratisasi di Mesir
dihadang oleh negara-negara Barat yang mendukung aksi kudeta militer
untuk menghentikan gerak Presiden terpilih secara demokratis di Mesir,
Mohammad Mursy. Sikap Amerika jelas plin-plan. Kabar-kabar terakhir menyebutkan bahwa pihak Gedung Putih akan mengirimkan pesawat F-16 plus
bantuan militer. Konon lagi militer telah mengontak Israel sebelum aksi
kudeta terhadap Mohammad Mursy dilangsungkan. Apa sejatinya yang tengah
terjadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah islamophobia masih besar di Mesir.
Islam memang akan terus diguncang bahkan diperangi oleh para
musuhnya. Bahkan hingga di bangku parlemen sekalipun. Siang dan malam
para musuh Islam memikirkan bagaimana agar nilai-nilai Islam tak
mengalir dalam urat nadi masyarakat. Karena yang paling penting bagi
musuh-musuh Islam adalah; “Manusia harus dijauhkan dari nilai-nilai
rabbani.”
Dan berkaitan dengan kasus kudeta di Mesir begitu tampak jelas islamophobia itu. Islam seolah tak dapat memerintah Mesir. Dan sepertinya Mesir akan dikembalikan pada masa kejayaan peradaban Fir’aun (Pharaoh civilization). Satu kemunduran yang sangat menggelikan.
Barat sepertinya lupa dengan perjuangan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassallam. dan para sahabatnya ketika membebaskan Mesir dari
tangan Byzantium. Atau Barat ingin mengembalikan Mesir ke tangan
kekuasaan Byzantium: kaum paganis, Yahudi, dan Kristen. Bukankah saat
ini yang menguasai kursi-kursi parlemen di Mesir adalah kaum
liberal-sekular, kaum nasionalis, dan Kristen Koptik. Di mana peran
kalangan islamis? Paling-paling mereka menjawab: Kami sudah tawarkan
kepada Al Ikhwan al Muslimun untuk gabung, tetapi mereka
memilih untuk menolak. Bagaimana mungkin mereka ikut sementara presiden
yang sah digulingkan secara inkonstitusional.
Bersatu
Menghadapi situasi yang serba sulit ini kita kembali diingatkan kepada satu sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi,
“Akan datang suatu masa dimana kalian akan diperebutkan oleh berbagai
bangsa dan negara. Seperti mereka berebut menu makanan di meja makan.”
Kemudian ada yang bertanya: ‘Apakah karena kami ketika minoritas ketika
itu wahai Rasul?’ ‘Tidak! Kalian saat itu adalah umat mayoritas. Tetapi
kualitas kalian bagai buih di lautan. Nanti Allah akan menghilangkan
rasa segan (takut) terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian.
Gantinya, Allah akan memasukkan penyakit ‘wahn’ ke dalam hati kalian.’
Ada yang bertanya lagi: ‘Penyakit apakah ‘wahn’ itu wahai Rasulallah?’
‘Terlalu cinta kepada dunia dan (akhirnya) takut mati”, jawab Rasul. (HR. al-Bukhari, Abu Dawud, al-Thabrani, al-Baihaqi, al-Baghawi, Ibn Abi ‘Ashim, Ahmad, dan yang lainnya).
Dalam bukunya Aina al-Khalal, Syeikh al-Qaradhawi ketika mengontari QS. al-Anbiya’ [21]: 92 menyatakan, “Sekarang
umat ini bukan lagi umat yang bersatu, sebagaimana yang diinginkan oleh
Allah swt. Akan tetapi akan menjadi umat yang terpecah-belah
sebagaimana yang diinginkan oleh penjajah, yakni umat yang bermusuhan
antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan saling membinasakan antara
satu bagian dengan bagian yang lainnya. Singkat kata, umat kita
melupakan Allah, hingga Allah membuat mereka lupa akan diri mereka
sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS. al-Hasyr [59]: 19.” (Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, Titik Lemah Umat Islam, Terj. Rusydi Helmi (Jakarta: Penebar Salam, 1421 H/2001 M), hlm. 16).
Semoga pengalaman yang terjadi atas penjajahan di Palestina, Iraq,
Libya, Suriah, Filipina, dan yang lainnya seharusnya memacu kita untuk
merapatkan barisan. Satu barisan yang memikirkan peta jihad ke depan
untuk membela umat Islam di mana pun mereka berada. Jangan sampai umat
ini diberangus pelan-pelan tapi pasti. Karena Allah tidak akan pernah
menyatukan umat ini kalau tidak ada keinginan untuk bersatu dari umat
itu sendiri. Bukankah Allah telah menegaskan bahwa Dia tidak akan
mengubah nasib suatu kaum (bangsa) sampai mereka sendiri mau mengubah
nasibnya secara sadar (QS. al-Ra’d [13]: 11). Wallāh waliyyut-tawfīq.*
Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah,
Medan, Sumatera Utara. Penulis buku “Salah Paham tentang Islam: Dialog
Teologis Muslim-Kristen di Dunia Maya” (2012)
/Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi /hidayatullah



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !