(Ketua IKADI Jawa Timur)
Musim
haji telah tiba kembali. Dan pelaksanaan ibadah agung yang merupakan
rukun Islam kelima itu akan segera berlangsung. Para jamaah pun secara
bergelombang sudah pada berangkat untuk menyambut dan memenuhi seruan
Allah. Tentu saja kita bergembira dan bersyukur atas besarnya semangat
dan luar biasanya antusiasme masyarakat muslim dalam menunaikan perintah
agama. Sekaligus tak lupa kita berdoa dan berharap semoga seluruh
jamaah dikaruniai keikhlasan, diberi kemudahan dan kelancaran, serta
dibimbing untuk memperoleh haji mabrur, yang berbalas surga, dan yang
tentu akan memberikan efek perubahan positif, baik bagi diri pribadi dan
keluarga masing-masing jamaah secara khusus maupun bagi kehidupan
masyarakat serta bangsa dan ummat secara umum. Aamiin!
Tulisan ini tidak untuk membahas tentang hukum-hukum ibadah haji dan
umrah. Karena kurang relevan untuk coretan singkat seperti ini. Namun
tulisan ini ingin mengajak para pembaca untuk menggali hikmah, ibrah dan
pelajaran yang sangat besar dan banyak sekali di balik ibadah suci,
sakral dan istimewa ini. Dimana dengan mengambil hikmah, ibrah dan
pelajaran itu, kita yang tidak atau belum berkesempatan berhaji-pun
tetap bisa mendapatkan barakah dan fadhilah yang sangat besar dari
ibadah haji dan umrah. Sedangkan bagi para jamaah haji sendiri,
pengambilan hikmah, ibrah dan pelajaran dari manasik haji dan umrah yang
insyaallah segera mereka jalankan, akan memberikan nilai lebih dan
sekaligus bisa menjadi pembuktian serta penyempurna bagi ke-mabrur-an
haji mereka.
Tentu saja banyak sekali hikmah, ibrah dan pelajaran
yang bisa kita petik dari haji dan umrah ini. Namun tulisan ini hanya
akan menyebutkan tiga saja, yang sangat fundamental dan urgen sekali
bagi upaya peningkatan kualitas keislaman dan keistiqamahan kita.
Pertama, ruhut talbiyah (semangat menyambut seruan Allah dan memenuhi panggilan-Nya).
Jamaah haji dan juga umrah, sejak pertama kali berniat ihram, disunnahkan memperbanyak pengucapan talbiyah, yang berupa ucapan: Labbaik allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik…dan seterusnya, yang berarti: Aku
sambut seruan-Mu ya Allah, aku sambut seruan-Mu. Aku penuhi
panggilan-Mu, tiada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar)
selain Engkau, aku penuhi panggilan-Mu…
Maka
esensi dari bacaan talbiyah di dalam haji dan umrah adalah semangat dan
kesiapan menyambut seruan Allah, yang juga biasa dibahasakan dengan
kata sami’na wa atha’na, yang bermakna: kami dengar dan kami siap taat.
Allah
Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Sesungguhnya jawaban/sikap
orang-orang mukmin, bila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul
menegakkan hukum di antara mereka, ialah ucapan. “Kami mendengar, dan
kami patuh (taat) dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung/berbahagia” (QS. An-Nuur [24]: 51).
Nah,
betapa indah dan luar biasa seandainya semangat kita dan seluruh kaum
muslimin dalam menyambut setiap seruan dan perintah Allah adalah seperti
yang kita miliki dalam menyambut seruan untuk berhaji dan berumrah!
Bahkan seandainya semangat kaum muslimin dalam menyambut dan memenuhi
setiap seruan dan perintah Allah, setara dengan seperempat saja misalnya
dari semangat dan antusiasme mereka dalam berhaji dan berumrah, niscaya
tuntaslah seluruh masalah ummat dan bangsa ini! Namun sayang sekali,
kita sering tidak sadar bahwa, faktanya selama ini kita masih
diskriminatif dalam menyikapi seruan-seruan dan perintah-perintah Allah
Ta’ala! Maka mari menyambut setiap seruan dan perintah Allah dengan ruh labbaik allahumma labbaik dan semangat sami’na wa atha’na!
Kedua, ruhul ‘ibadah lil ibadah (semangat ibadah untuk ibadah, atau baca: totalitas ibadah).
Jika
dibandingkan dengan ibadah-ibadah asasi yang lainnya, maka akan
didapati bahwa, haji dan umrah dengan seluruh rangkaian manasiknya
adalah merupakan praktik ibadah ritual yang paling jauh dari penalaran
logika dan akal. Namun toh setiap jamaah tetap saja bersemangat dalam
menjalankannya. Ini hikmah dan pelajaran yang sangat penting yang
mengingatkan kita semua bahwa, yang harus menjadi dasar dan motivasi
utama dalam menjalankan setiap ibadah, khususnya yang bersifat ritual,
adalah iman dan bukan rasio atau logika.
Di
samping ini juga menyadarkan dan menegaskan tentang kesalahan dan
bahkan penyimpangan orientasi sebagian kalangan yang biasa atau
cenderung melogika-logikan (baca: mengedepankan dan mendominankan
logika) ibadah-ibadah ritual Islam! Sehingga ketika kita ditanya
misalnya, untuk apa melakukan semua amalan yang tidak logis itu? Maka
jawaban terbaiknya adalah: kita melakukan itu semua atas dasar iman dan
untuk tujuan ibadah kepada Allah. Karena kita adalah hamba-hamba Allah
yang harus membuktikan penghambaan diri kita kepada-Nya. Dan karena
Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya saja.
Allah
Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan
manusia melainkan hanya supaya mereka beribadah/mengabdi kepada-Ku” (QS.
Adz-Dzariyaat [51]: 56).
Jadi itulah syi’ar kita: Al ‘Ibadah lil ‘ibadah! Beribadah untuk tujuan ibadah itu sendiri!
Ketiga, ruhut tadhiyah (semangat atau jiwa pengorbanan).
Haji
dan umrah juga merupakan ibadah yang menuntut beragam pengorbanan yang
tidak kecil, seperti pengorbanan harta, tenaga, waktu, mental dan masih
banyak lagi yang lainnya, bahkan terkadang harus siap berkorban nyawa
segala. Dimana tanpa adanya kesiapan berkorban dengan semua pengorbanan
itu, seseorang tidak akan bisa sampai ke Tanah Suci untuk memenuhi
panggilan ilahi. Mungkin karena itu, Rasululah shallalahu ‘alaihi
wasallam menyebut haji dan umrah sebagai jihad tanpa pertempuran ,
khususnya bagi kaum perempuan, bahkan Beliau shallalahu ‘alaihi wasallam
sampai menyebutnya sebagai bentuk jihad yang paling utama (lihat HR.
Ahmad dan Ibnu Majah, juga HR. Al-Bukhari, keduanya dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha).
Dan ibrah penting
yang harus kita ambil disini adalah bahwa, setiap penunaian perintah dan
syariat Allah menuntut pengorbanan. Sehingga tanpa adanya semangat dan
kesiapan berkorban, jangan harap dienul-Islam bisa tegak dan eksis di
muka bumi ini. Maka siapkah kita selalu berkorban?
Itulah tiga
hikmah dan ibrah penting yang diharapkan bisa menjadi bagian dari
“oleh-oleh” paling berharga dari haji dan umrah, tidak hanya bagi jamaah
haji saja, tapi juga bagi kita semua. Semoga!
sumber :fimadani.com



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !